Laki laki berkulit hitam manis itu resah. Dia bolak balik melihat jam tangannya. Entah apa yang tengah dia nantikan. Tahi lalat yang menempel di pipi kirinya. Penambah manis rupa nya.
Waktu malam ini langit bersih, tanpa gemerlap cahaya bintang. Bulan tampaknya kini sendiri. Laki laki itu sejenak menghela napas panjang, menikmati kegundahan hati nya. Tepat pukul 02.00 dini hari, gerimis pun mulai menjelajah Seluruh penjuru kota ini, deru mobil lalu lalang pun makin sepi, seakan mereka tak ingin menyentuh hujan yang sedang menari nari ria memenuhi malam laki laki itu.
Malam kian berlalu, pagi pun menanti. Serasa detik waktu terlalu cepat berlalu. Pagi ini sama persis seperti 6 tahun lalu di sekolah menengah pertama di sebuah desa kecil nan indah. Saat orang orang sedang asyik membersihkan taman taman kelas nya, si laki laki itu pun sibuk mengganggu gadis nya. Gadis pujaan hatinya hingga setahun lalu. Setahun lalu saat semuanya berakhir saat gadis pujaannya itu meninggalkan dia. Entah apa sebab huru hara itu terjadi. Menghalau dan mengepung segala alasan demi perpisahan yang sebenar nya tak di inginkan. . "Ah.. mengenang masa lalu itu sakit". Desah nya.
Entah mengapa, matahari tak kunjung menampakkan ekor mentarinya hari itu. Sungguh, sinar seterusnya telah di diselundupkan di antara mega mega untuk waktu sesiang itu. Boleh jadi dia gugup untuk keadaan pagi ini. Boleh jadi subuh pagi ini menjadi perulangan sejarah hidup nya. Boleh jadi pagi ini telah diminta malaikat atas nama takdir, menjadi saksi atas drama kepiluan yang akan terekam sepanjang masa.
Waktu malam ini langit bersih, tanpa gemerlap cahaya bintang. Bulan tampaknya kini sendiri. Laki laki itu sejenak menghela napas panjang, menikmati kegundahan hati nya. Tepat pukul 02.00 dini hari, gerimis pun mulai menjelajah Seluruh penjuru kota ini, deru mobil lalu lalang pun makin sepi, seakan mereka tak ingin menyentuh hujan yang sedang menari nari ria memenuhi malam laki laki itu.
Malam kian berlalu, pagi pun menanti. Serasa detik waktu terlalu cepat berlalu. Pagi ini sama persis seperti 6 tahun lalu di sekolah menengah pertama di sebuah desa kecil nan indah. Saat orang orang sedang asyik membersihkan taman taman kelas nya, si laki laki itu pun sibuk mengganggu gadis nya. Gadis pujaan hatinya hingga setahun lalu. Setahun lalu saat semuanya berakhir saat gadis pujaannya itu meninggalkan dia. Entah apa sebab huru hara itu terjadi. Menghalau dan mengepung segala alasan demi perpisahan yang sebenar nya tak di inginkan. . "Ah.. mengenang masa lalu itu sakit". Desah nya.
Entah mengapa, matahari tak kunjung menampakkan ekor mentarinya hari itu. Sungguh, sinar seterusnya telah di diselundupkan di antara mega mega untuk waktu sesiang itu. Boleh jadi dia gugup untuk keadaan pagi ini. Boleh jadi subuh pagi ini menjadi perulangan sejarah hidup nya. Boleh jadi pagi ini telah diminta malaikat atas nama takdir, menjadi saksi atas drama kepiluan yang akan terekam sepanjang masa.
Matahari segugup laki laki itu. Bibir tebal nya tak berhenti bergerak, beekomat kamit seolah membaca mantra. Lalu muncullah yang dia tunggu tunggu dari sisa sisa hujan pagi itu. Seorang wanita muda, kecil dan imut membawakan secangkir teh manis. Setelah sekian lama berlalu tanpa kabar berita sejak perpisahan mereka setahun lalu.
Raut wajahnya juga menggambarkan rasa gugup. Betapa tidak, kekasih masa lalunya itu kini berada tepat di hadapannya. Kegugupan nya itu seakan menguras semua tenaga yang dimilikinya hingga tak mampu melisankan aksara yang sejak tadi di susunnya. Aksara yang bersarang di benaknya itu seakan tak tahu menahu peristiwa pagi itu hingga membuat mereka tak saling bicara, atau rasa yang masih tersisa itu memenjarakan aksara yang dimilikinya. Entahlah. Dengan bertumbuk pandang begitu saja mereka lalu mengangguk mantap. Sudah tahu sama tahu. Biar matahari sendiri saja yang gelisah hari itu.
Next.... klik sub bab yang baru saya upload yah. Tajuknya "AKU MENUNGGUMU DI BATAS WAKTU"
SELAMAT MEMBACA
Jangan lupa klik share and follow yah.
Terimakasih 😉
Tidak ada komentar:
Posting Komentar