Jumat, 30 Desember 2016

KETIKA YANG LALU KEMBALI

Laki laki berkulit hitam manis itu resah. Dia bolak balik melihat jam tangannya. Entah apa yang tengah dia nantikan. Tahi lalat yang menempel di pipi kirinya. Penambah manis rupa nya.

Waktu malam ini langit bersih, tanpa gemerlap cahaya bintang. Bulan tampaknya kini sendiri. Laki laki itu sejenak menghela napas panjang, menikmati kegundahan hati nya. Tepat pukul 02.00 dini hari, gerimis pun mulai menjelajah Seluruh penjuru kota ini, deru mobil lalu lalang pun makin sepi, seakan mereka tak ingin menyentuh hujan yang sedang menari nari ria memenuhi malam laki laki itu.

Malam kian berlalu, pagi pun menanti. Serasa detik waktu terlalu cepat berlalu. Pagi ini sama persis seperti 6 tahun lalu di sekolah menengah pertama di sebuah desa kecil nan indah. Saat orang orang sedang asyik membersihkan taman taman kelas nya, si laki laki itu pun sibuk mengganggu gadis nya. Gadis pujaan hatinya hingga setahun lalu.  Setahun lalu saat semuanya berakhir saat gadis pujaannya itu meninggalkan dia. Entah apa sebab huru hara itu terjadi. Menghalau dan mengepung segala alasan demi perpisahan yang sebenar nya tak di inginkan. . "Ah.. mengenang masa lalu itu sakit". Desah nya.

Entah mengapa, matahari tak kunjung menampakkan ekor mentarinya hari itu. Sungguh, sinar seterusnya telah di diselundupkan di antara mega mega untuk waktu sesiang itu. Boleh jadi dia gugup untuk keadaan pagi ini. Boleh jadi subuh pagi ini menjadi perulangan sejarah hidup nya. Boleh jadi pagi ini telah diminta malaikat atas nama takdir, menjadi saksi atas drama kepiluan yang akan terekam sepanjang masa.

Matahari segugup laki laki itu. Bibir tebal nya tak berhenti bergerak, beekomat kamit seolah membaca mantra. Lalu muncullah yang dia tunggu tunggu dari sisa sisa hujan pagi itu. Seorang wanita muda, kecil dan imut membawakan secangkir teh manis. Setelah sekian lama berlalu tanpa kabar berita sejak perpisahan mereka setahun lalu.

Raut wajahnya juga menggambarkan rasa gugup. Betapa tidak, kekasih masa lalunya itu kini berada tepat di hadapannya. Kegugupan nya itu seakan menguras semua tenaga yang dimilikinya hingga tak mampu melisankan aksara yang sejak tadi di susunnya. Aksara yang bersarang di benaknya itu seakan tak tahu menahu peristiwa pagi itu hingga membuat mereka tak saling bicara, atau rasa yang masih tersisa itu memenjarakan aksara yang dimilikinya. Entahlah. Dengan bertumbuk pandang begitu saja mereka lalu mengangguk mantap. Sudah tahu sama tahu. Biar matahari sendiri saja yang gelisah hari itu.


Next.... klik sub bab yang baru saya upload yah. Tajuknya "AKU MENUNGGUMU DI BATAS WAKTU" 

SELAMAT MEMBACA 
Jangan lupa klik share and follow yah.
Terimakasih 😉

PENGHUJUNG DESEMBER

Berawal dari rindu blog ini ku tulis. Rindu yang kian lama memuncak. Tak terbendung lagi. Rindu yang tak sanggup ku utarakan. Yang tak sanggup ku ungkapkan. Bahkan tak sanggup jua ku sampaikan pada mu. Galau ini lebih dari yang kau tau. Lebih dari yang kau kira. Lebih jua cinta yang tumbuh untuk mu. Cinta yang ada tanpa kau tau, karena bagi mu hanya ada dia. Bahkan tak sedikit acuh mu pada ku.
Sakit ?? Yah.. mungkin iya. Sakit. Tapi siapa aku yang bisa mengubah nya...
Btw.. tau ah ... malesssss... tapi rinduu.... 💕

Aaahhhhhh,,, nama itu selalu terngiang di telinga,,, wajah itu selalu terbayang di pelupuk,,, lelah mengatakan mencintaimu, tapi tak pernah lelah tuk menyayangimu...

Minggu, 02 Oktober 2016

SEPTEMBER BERCERITA



Seperti kopi, iya kopi hitam pekat dengan rasa dan aroma yg khas. Menghangatkan tapi menyisakan kepahitan yang mendalam. Seperti drama hidup ini, pahit yang tak ada ujungnya. manis yang tak ada pangkalnya. semua berlalu begitu saja. kisah kita begitu juga, berlalu tanpa satupun dari mereka mengetahui, menyayangimu adalah anugrah, memiliki mu adalah mungkin. tidak ada yang peduli dengan apa yang terjadi antara kita, sahabat kecil yang membuat hati ini bergerak maju, sahabat kecil yang mampu menggetarkan jiwa ini, curhatan tiap hari bahkan tiap detik rasanya sangat tak berarti jika itu bukan dengan mu. sahabat kecil ku. simbol ini hanya kita saja yang tahu, tiada satu pun selain kita. terimakasih telah mengingat ku meskipun jauh, meskipun jarang bersua, meskipun sudah jarang sekali, bahkan hampir tidak pernah bertanya akan perasaan masing maisng. yang ada hanyalah tinggal kenangan dan candaan antara kita. yang ada hanya keinginan untuk menjadi yang terbaik untuk satu sama lain, kita menjauh bukan karena kita tak mampu, tapi hanya saling menghargai dan mengerti. dan memahami perasaan  antara kita. meyakini apa yang sebenarnya terjadi. 
kamu memiliki dia, dan aku dengan diriku dan kesibukan ku, meskipun penyatu antara kita ada bila tak ada keinginan antara kita semua tak akan pernah terjadi. hanya bisa mencintai mu lewat mimpi dan doa doa, bersama Tuhan yang selalu mendengar ku, yang selalu dan senantiasa bersama ku.
Biarlah lewat doa aku mampu mengatakannya, semoga semua nya pergi dan berlalu. dan akhirnya menyisakan pahit dalam kenangan manis nya rasa.

CURHATAN MALAM

Andai esok aku mati,
Apalah daya diri ini
Tak mampu mengulur hari
Tak mampu bernegosiasi
Agar aku tak mati besok pagi

Andai esok aku mati,
Melihat ruh terpisah dengan diri
Tak mampu bergerak lagi
Tergeletak diam dan sepi

Andai esok aku mati,
Tak perlu lagi disesali
Waktu takkan terulang lagi
Waktu tak akan pernah kembali

Andai esok aku mati
Ku berharap itu tak terjadi
Belum cukup bekal diri
Belum sempat memenuhi janji
Belum sempat silaturahmi

Andai esok aku mati
Betapa rugi diri ini
Ke mana waktu yang sudah dilalui
Tak ada manfaat bagi diri
Malah mudharat yang di beri

Andai esok aku mati
Ampuni lah dosa hamba ini
Dosa yang menggunung tinggi
Dosa yang tak terhitung lagi

Andai esok aku mati
Di detik terakhir hidup ini
Ku berharap dapat mengucap kalimat ilahi
Terukir senyum pada bibir ini
Untuk menghadap Mu Yaa Rabbi

Ku tulis coretan ini
Di penghujung malam yang sepi
Setelah berduaan dengan Mu Yaa Rabbi

Minggu, 25 September 2016

SECANGKIR KOPI RINDU


Gerimis yang datang di akhir september
Membawa angin berhembus dingin
Di malam yang dingin
Dalam kamar ini ku termangu sendiri
Memandang kebalik jendela dalam tirai
Terlihat tetesan-tetesan hujan yang mengembun di balik kaca

Kembali hati ini resah
Membuncah di benakku
Peristiwa masa yang lalu
Masa yang telah lama tersimpan
Dalam kenangan yang tertoreh dijiwa
Kini hujan turun lagi
Diambang pagi yang membuai lamunan
Pada tepi sudut kamar ini
Kutermenung membuai mimpi dalam khayal
Hujan hantarkan ku ke masa silam

Tak terasa beberapa tahun telah berlalu
Saat kau pergi meninggalkan ku
Di tepian sunyi yang menyudutkan ku pada mimpi-mimpi indahku
Sendiri mengarungi bahtera kesakitanku

Yang tertinggal hanya gambarmu
Yang menggantung di dinding kamarku
Pengobat kesepian hari-hariku
Dalam malam-malam yang kulalui

Saat kerinduan ini mendera
Ku terjaga pada malam yang hening
Diantara jutaan yang terlelap
Ku bisikan kerinduan lewat foto mu
Yang tersenyum melihatku
Memamerkan keteduhan matamu
Yang menyejukan hati dan pikirku
Kasmaran ini yang begitu lama
Memenjarakan ku dalam sepiku
Rentang waktu yang bergulir
Tak bisa hapuskan mu dalam ingatanku
Selalu tersimpan nama mu di lubuk hatiku
Yang terdalam menyimpan kenangan

Saat-saat indah di lalui denganmu
Dengan secangkir kopi dalam genggaman Dalam malam yang gerimis dan berkabut
Duduk bersamamu dengan berjuntai kaki
Di tepian kolam sudut ayunan
Bercanda denganmu melewati malam penuh kehangatan
Ditemani bulan yang tertutup awan
Di hiasi kelelawar beterbangan
Kuhirup udara yang menyejukan
Dengan seteguk kopi
Yang menghangatkan

Secangkir kopi pelepas dahagaku
Menemani kegelisahan malamku
Yang mengusik mimpi tentang mu
Yang tak henti menggangguku

Di setiap detik ku berpikr tentangmu
Yang telah di bawa waktu yang berjarak
Merenggutmu dari pelukan kebahagiaanku
Yang terhempas di lembah kedukaan
Dalam kesedihanku

Setiap petang menjelma kamu dengan senyummu
Menyapaku dalam ketidakberdayaan waktu
Yang memisahkan
Antara kehidupanku dan kehidupanmu
Dalam jarak yang terlalu jauh ku tuk bisa meraihmu
Terhalang dinding pemisah yang membuatmu
Tak mungkin kembali padaku