Kamis, 15 November 2018

DREAMS



Bagiku bermimpi bukan lah hal yg sulit, namun untuk mewujudkannya perlu keteguhan hati yg kuat. Support dari orang tua yg mantap. Cibiran tetangga merupakan cambuk besar bagi ku untuk terus melangkah. Karena ku tahu keluarga ini tak mungkin tak bisa bangkit dari kemiskinan, dari kesusahan dan kepahitan hidup. Janjiku pada Mu adalah membuat ayah dan ibu bahagia dunia dan akhirat, dari mana saja sumbernya.

Teruslah melangkah, selagi muda. kejarlah bintang nun jauh disana. Kumpulkan dalam saku mu sebanyak banyaknya. Bila kelak dunia gelap, dapat kau gunakan sebagai cahaya. Pelajari setiap peta baru yg kau temukan, bila kelak kau lelah, kau dapat berhenti tanpa harus tersesat. Percayalah mimpimu akan jadi nyata, Tuhan selalu mendengarkan keinginan mu, Dia juga pasti mengabulkannya. Yakinlah.

Berani bermimpi adalah berani melakukan.
Berani melakukan adalah berani mengambil keputusan
Berani mengambil keputusan adalah berani menanggung konsekuensi

Hadapi dan bahagialah. 😊
Tidak ada ujuan diluar batas kemampuan.

Rabu, 22 Agustus 2018

BULAN YANG MENYEMBUNYIKAN SINARNYA

Malam kian larut, nyanyian jangkrik pun kian menyeruak masuk menusuk gendang telinga, makin dalam, makin tajam dan makin memenuhi malam. Sama seperti malam yang sudah sudah, dingin dan sepi. Kian pekat dan tak kuasa tuk ku arungi. Hanya mampu diam, menyelam dalam gelapnya semesta. Sambil merangkai kata, menelusuri setiap baris baris yang tersisa pada lembar yang belum terjamah tinta. Bermodalkan bolpoint merk Balaji Twister warna ungu, satu satunya kepunyaan ku. Lalu kutuliskan bait demi bait, dan itu semua kau tau? Semuanya tentang mu. Tentang kisah kita yang lalu yang selalu saja indah untuk dikenang namun tidak untuk di ulang. Kecuali bila Tuhan berkata lain, dan mengizinkan. Sejauh apapun kau dan aku pergi, kita pastipasti kembali.  

Rasanya sungguh egois bila aku yang pergi ini memintamu kembali. Aku yang berani meninggalkan luka di hatimu, mencabut paksa cinta yang kau tanam dan kemudian menumbuhkan rindu yang mendalam lalu hilang sehingga rindu tak mampu kau lisankan, sementara aku berani merindukan mu. Egois sekali aku. 

Seharusnya kau tak perlu tau apa apa lagi, hingga aku tak perlu menjelaskan lebih. Harusnya kau tak perlu menemukanku kemudian hingga aku sanggup menemuinya. Karena kepergian ku adalah luka bagimu. Nyatanya cinta memang sekejam itu. Bukannya cinta itu datang lagi, namun ianya memang tak pernah pergi. Saat ruang kosong menyekat di ubun-ubun, bayangmu yang mematuk seketika merama Rama tak hilang melebur nyata dalam bulir rindu yang terpelihara. Entah dimana Adamu yang harus kutemui itu. Aku hanya tahu kau selalu mampu menghadirkan getar getar indah yang ku iba menjadi bahagia. Lalu kusebutkan egois. Disetiap tarian debu dan derai gerimis yang jatuh lambat laun jadi hujan yang entah kemana arahnya pagi ini. Yang sengaja menggoda bumi. Memaksa bulan menyembunyikan sinarnya.

Sekali aku coba berlari dan mengingkari, seribu kali aku kembali. Dan kau tahu? Sama seperti bulan itu. Terpaksa menyembunyikan kerinduan yang tak pernah mampu pergi. Andai hujan mampu membawa kenangan pergi lewat rintiknya. Duh.. andai.  Lalu kumpulkan semua rindu untuk bangkit dalam barisan doa doa. Dan lalu rebah, pasrah. 

Segalanya telah tertebas waktu dan aku masih terhisap sepi yang membeku bisu di ujung sapaku yang tertatih. Bintang pun tak menyapaku, seakan tau ia tak mampu menghantarkan rindu yang bergemuruh menyesakkan relung jiwaku. 

"Semesta selalu tahu bagaimana menyembuhkan luka, juga memupuk harapan baru setelah yang lain kandas di persimpangan jalan". Begitu katamu suatu kali. 

Dalam dekapan malam, aku lalu terlelap membawa rindu dan harapan. Jika tidak dengan mu. Mungkin dengan dia yang sedang memperbaiki dirinya untukku. Sama seperti yang kulakukan.. 



Jangan lupa share ya. Terimakasih sudah mampir dan membaca. 😉

Rabu, 04 Juli 2018

AKU MENUNGGUMU DI BATAS WAKTU


Matahari pagi ini seakan tahu kegundahan hati. Sinarnya yang tersembunyi sama seperti rasa ini. Rasa yang tak pernah mampu tuk ku ungkapkan. Hari ini, pagi ini seseorang datang bertumbuk pandang dengan ku. Seseorang dari masa lalu. Dia masih sama seperti setahun lalu. Masih saja manis dan masih saja mampu membuatku jatuh berkali kali. Jatuh cinta maksud ku. Debar di dada ku membuat ku kikuk tak mampu mengucap sepatah kata pun. Ingin ku tersenyum, tapi bibir ini seolah keras mengeras seperti layaknya batu. Entah apa gerangan. Mungkin saja manis wajahnya menyihir ku menjadi seperti ini. Layaknya patung yang terbuat dari manusia. Pertemuan kita seakan hanya ilusi , yang nyatanya hanya karena secangkir teh yang dipesan lewat bibi ku. Meja 6 di sudut ruangan. Meja favorit ku bermadu kasih dengan buku buku biologi dan matematika. Pelajaran favorit ku. Meja itu pula yang dia tempati saat ini. Pekatnya teh menggambarkan lekatnya pandangan kami bertemu. Bukan maunya begitu. Tapi seolah tak percaya bahwa yang ku lihat adalah dia. Memang hati sudah tahu sama tahu hingga tak sengaja anggukan antara kita nyaris bersamaan.

Layaknya matahari yang pagi ini menyembunyikan sinarnya dengan rapi dan menutupnya rapat rapat. Bukan nya tak ingin katanya, tapi awan juga membutuhkan sinarnya. Tak apa bila bumi sesekali menunggu sinarnya. Seperti itulah raut di wajah manis mu. Aku tahu banyak sekali yang ingin di ungkapkan namun tak mampu terucapkan. Detik berlalu, tidak. Menit pun berlalu begitu cepat seolah jarum jam berlari kencang. Hingga waktu berlalu begitu cepat. Namun tak sepatah kata pun terucap antara kita bahkan sekedar bertanya oh hello saja pun tidak. Gelagat nya dan gelagat ku pagi itu mengundang gelak tawa ku saat ini. Saat ku tulis cerita ini. Bahkan burung saja enggan untuk berkicau.

Waktu pun berlalu, hari berganti bulan, bulan berganti tahun, sejak saat itu tak pernah lagi ku temui sosoknya. Terdengar kabar dia sudah memiliki pengganti ku. Hancur sudah. Dia yang selalu ku sebut dalam doa. Mungkin Tuhan berkata lain. Cukup dengan kekaguman yang hanya Tuhan dan aku sendiri yang tahu. Begitu pula dengan ku. Aku juga sama. Sama sama memiliki pengganti.

Kini aku duduk di kelas XII semester 2, lebih tepatnya kelas XII IPA 1, kelas terfavorit dan satu satunya kelas unggul pada zamannya. Aku dan dia memang tidak belajar di sekolah yang sama. Ini sesuai dengan pilihan kami masing masing. Ini juga menjadi salah satu alasan kandasnya hubungan kami dua setengah tahun lalu. Hubungan yang menyisakan rindu dan pilu. Tapi tidak untuk beberapa waktu, karena aku juga sudah memiliki pujaan hati. Enggan untukku menyebutkan kan namanya karena saat aku menulis ini maksudku saat ini dia sudah menikah. Dia menikah tahun 2017 lalu, tepatnya bulan Desember. Sudah tentu dia menikah dengan kekasih nya setelah putus dari ku. Hubungan ku dengannya tidak berlangsung lama. 7 kali bulan berkeliling mengelilingi bumi adalah lamanya waktu ku bersamanya. Tak lama memang. Tak banyak juga yang bisa dikenang.

Tibalah di akhir semester, gencar gencar nya guru memburu siswa untuk di paksa belajar. Katanya persiapan Ujian Nasional. TO pertama ku jujur nilai ku anjlok. Tidak ada satupun mata pelajaran yang tertulis lulus didepan namaku. Tepat diwaktu itu pula sekolah mengadakan lomba. Disana jua lah aku bertemu kembali dengan nya. Dengan dia laki laki masa lalu yang manis. Dia adalah salah satu dari sekian banyak utusan dari sekolahnya yang ikut memeriahkan perlombaan hari itu di sekolah ku. Saat itu Aku tahu dia memberanikan diri untuk mengajakku pulang bersama. Kebetulan hari itu juga belajar diliburkan. yang ku tahu dia masih bersama kekasihnya dan aku sudah tidak lagi bersama kekasih ku. Kekasih yang entah bagaimana bisa pergi dan menghilang begitu saja (sudah ku jelaskan kini dia sudah menikahi kekasihnya yang baru)

Sore yang cerah, seakan langit tahu akan hati ku. Saat itu juga aku kembali jatuh padanya. Jatuh cinta maksud ku.
Entah apa yang dimilikinya yang membuat aku gila padanya. Chatting pun dimulai. Kisah cinta dua setengah tahun silam pun terulang, terkenang. Katanya ada rindu yang masih tersisa dan ada kenangan yang mengintai.

Tepat pada 20 Maret 2014 kami kembali bersama. Bersama sama mengakui perasaan kami yang lama tertunda. Lama sekali saking lamanya susah move on. 🙄
Penantian ku di batas waktu tak pernah sia sia. Kamu yang kutunggu. Malaikat manis yang dikirim Tuhan untuk ku.

Terimakasih sudah membaca 
Tunggu kisah selanjutnya
Jangan lupa klik share and follow yah 
See you 😄