Minggu, 02 Oktober 2016

SEPTEMBER BERCERITA



Seperti kopi, iya kopi hitam pekat dengan rasa dan aroma yg khas. Menghangatkan tapi menyisakan kepahitan yang mendalam. Seperti drama hidup ini, pahit yang tak ada ujungnya. manis yang tak ada pangkalnya. semua berlalu begitu saja. kisah kita begitu juga, berlalu tanpa satupun dari mereka mengetahui, menyayangimu adalah anugrah, memiliki mu adalah mungkin. tidak ada yang peduli dengan apa yang terjadi antara kita, sahabat kecil yang membuat hati ini bergerak maju, sahabat kecil yang mampu menggetarkan jiwa ini, curhatan tiap hari bahkan tiap detik rasanya sangat tak berarti jika itu bukan dengan mu. sahabat kecil ku. simbol ini hanya kita saja yang tahu, tiada satu pun selain kita. terimakasih telah mengingat ku meskipun jauh, meskipun jarang bersua, meskipun sudah jarang sekali, bahkan hampir tidak pernah bertanya akan perasaan masing maisng. yang ada hanyalah tinggal kenangan dan candaan antara kita. yang ada hanya keinginan untuk menjadi yang terbaik untuk satu sama lain, kita menjauh bukan karena kita tak mampu, tapi hanya saling menghargai dan mengerti. dan memahami perasaan  antara kita. meyakini apa yang sebenarnya terjadi. 
kamu memiliki dia, dan aku dengan diriku dan kesibukan ku, meskipun penyatu antara kita ada bila tak ada keinginan antara kita semua tak akan pernah terjadi. hanya bisa mencintai mu lewat mimpi dan doa doa, bersama Tuhan yang selalu mendengar ku, yang selalu dan senantiasa bersama ku.
Biarlah lewat doa aku mampu mengatakannya, semoga semua nya pergi dan berlalu. dan akhirnya menyisakan pahit dalam kenangan manis nya rasa.

CURHATAN MALAM

Andai esok aku mati,
Apalah daya diri ini
Tak mampu mengulur hari
Tak mampu bernegosiasi
Agar aku tak mati besok pagi

Andai esok aku mati,
Melihat ruh terpisah dengan diri
Tak mampu bergerak lagi
Tergeletak diam dan sepi

Andai esok aku mati,
Tak perlu lagi disesali
Waktu takkan terulang lagi
Waktu tak akan pernah kembali

Andai esok aku mati
Ku berharap itu tak terjadi
Belum cukup bekal diri
Belum sempat memenuhi janji
Belum sempat silaturahmi

Andai esok aku mati
Betapa rugi diri ini
Ke mana waktu yang sudah dilalui
Tak ada manfaat bagi diri
Malah mudharat yang di beri

Andai esok aku mati
Ampuni lah dosa hamba ini
Dosa yang menggunung tinggi
Dosa yang tak terhitung lagi

Andai esok aku mati
Di detik terakhir hidup ini
Ku berharap dapat mengucap kalimat ilahi
Terukir senyum pada bibir ini
Untuk menghadap Mu Yaa Rabbi

Ku tulis coretan ini
Di penghujung malam yang sepi
Setelah berduaan dengan Mu Yaa Rabbi